Tentang Sutan Takdir Alisjahbana
Sutan Takdir Alisjahbana atau biasa disingkat STA mengingatkan saya pada romannya yang berjudul Layar Terkembang. Sejak SMP saya membaca potongan roman tersebut. Kemudian saya SMA memutuskan untuk mencari roman utuhnya. Bahagia menemukannya di perpustakaan sekolah, tidak lantas membuat saya menuntaskannya. Ternyata romannya tidak begitu menarik. Pengalaman saya sepekan terakhir, STA muncul kembali di deretan rak pameran buku yang digelar anak-anak Ilmu Budaya UGM. Ada yang megganjal pikiran saya bahwa bicara tokoh budaya maupun sastra pasti tidak hanya STA. Mengapa tidak muncul karangan Amir Hamzah, Putu Wijaya, atau yang lebih modern Taufiq Ismail? Mengapa hanya STA? Usut punya usut, ternyata pameran buku yang baru saya hadiri adalah penggemar buku-buku sosialisme dan pluralisme. Belakangan saya tahu STA sempat aktif dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dan organisasi sosialis lainnya. Buku-buku yang dijual tergolong anti agama dan banyak diproduksi oleh penerbit-pen...