Postingan

Chapter 1 L2K

Gambar
Judul Buku: Lapis – Lapis Keberkahan Penulis: Salim A. Fillah Penerbit: Pro-U Media Halaman: 17-58 (Chapter 1) Pembuat Resume: Novi Trilisiana (IM 6) Seperti buku-buku Salim A. Fillah lainnya, saya selalu menyukai diksi dan analogi yang ditengahkan kepada pembaca. Kali ini buku terbarunya sedang hangat diperbincangkan dalam dunia dakwah literasi. Buku ini tebalnya nyaris 3cm dengan panjang 24cm dan lebar 16cm. Isinya padat berisi kaya inspirasi dengan 517 halaman yang meliputi. Salah satu diksi yang dipilih untuk menghiasi cover depannya bagi saya terasa sederhana tapi cukup memikat. “Memburu berkah amatlah berat. Tapi justru di dalamnyalah ada banyak rasa nikmat.” Pada bagian pertama (chapter 1), penulis menamainya sebagai “Beriris-Iris Asas Makna” dengan 6 sub bagian yang meliputi, (1) Menetap-Berkekal, Bertumbuh-Bertam bah; (2) Tabaarakallaah, Sebaik-baik Pencipta; (3) Kebaikan di Tangan-Mu, Yang Maha Tahu, (4) Tiada Daya, Maka Berjaya; (5) Mengemudi Hati di J...

Menulis Buku Anak

Gambar
Beberapa tahun silam, Ali Muakhir pernah mengisi kuliah kepada kami tentang buku anak menurut anak-anak. Aku adalah salah satu yang menyimak bersama mereka demi kepedulian pada anak-anak. Bagi kami Ali Muakhir sudah layaknya master of children story book terutama untuk cerita islami. Beliau yang penulis sekaligus penyunting buku-buku anak ini juga aktif membina komunitas menulis untuk anak-anak dan orang tua. Kali ini, akan kubagikan padamu sahabat, apa yang disampaikan Ali Muakhir tentang bagaimana menulis buku anak. Pertama, apa saja yang dibutuhkan anak-anak untuk dibaca? Anak-anak membutuhkan naskah yang berbeda dari remaja dan dewasa. Pilihan kata yang dibutuhkan juga harus sesuai anak-anak, penuh informasi, dan imajinasi. Anak-anak sangat membutuhkan gambaran tentang solusi menghadapi masalah supaya membantu anak-anak belajar bagaimana bersikap seharusnya. Anak-anak tertarik dan butuh wawasan di luar lingkungan keluarga mereka, misalnya pengalaman menjadi delegasi anak Indones...

Bagiku, Perang Itu...

Gambar
Kepedulian Menghindarkan kejadian Buruk Aku terbangun dari mimpi buruk pada tidur siangku hari ini. Kerongkonganku tercekat mengharap dialiri segera air yang jernih. Pegal semua badan, kurasakan. Seingatku, selepas nyawaku terkumpul, aku meludahi si penggoda tiga kali ke arah kiri. Entah karena aku lupa berdoa atau terlalu sering membaca buku keburukan yang timbul akibat perang! Mungkn kah… Terakhir kali sebelum tidur aku menamatkan novel The Kite Runner. Kudapati diriku mengutuki  perang di Afganistan tiap kali menelusuri halaman buku tersebut. Perang dengan alasan apapun, jika terjadi akan banyak merenggut kebahagiaan satu sama lain. Aku tak sampai hati membayangkan negeri Indonesia_tanah airku tempat aku lahir, tumbuh, dan mungkin 'tamat'_berubah menjadi negeri mati gara-gara peperangan. Buku ini, sedikit banyak menyingkap cakrawala pekat atas keegoisanku dan ketakpedulianku pada negeri sendiri. Kini aku peduli. Bangun dari ketidak-mau-tahuan-ku atas kebur...

Kamu Keki? Aku mah Kagak

Gambar
Tahun baru masehi emang selalu bikin keki bagi siapa aja yang ga kumpul bareng keluarga. Aku sendiri emang terlampau menyikapi secara biasa untuk kemudian tidak disebut keki tiap tahunnya. Aku ga peduli dengan rutinitas tahunan kebanyakan orang yang nahan ga tidur untuk niup terompet atau sekadar melihat kembang api di loteng rumah. Aku juga ga peduli kalau malam 1 Januari kudu bakar jagung atau bakar ayam. Asal ga bakar rumah aja! Kalau yang satu ini kudu respect dengan cepat dong. Menurutku, jauh lebih penting adalah ikut merasakan kebersamaan dengan keluarga di hari libur panjang ini yang secara rutin terjadi ketika natal dan tahun baru. Bayangin deh nasibku, hanya 1-2 kali dalam setahun baru bisa pulang kampung. Saat libur lebaran idul Fitri atau libur semester ganjil. Di sinilah yang bikin ngiri, kebanyakan anak kos yang rumahnya relatif mudah dijangkau senantiasa mudik kapanpun ada kesempatan, salah satunya yah…pas tahun baru ini. Di malam tahun baru tinggalah di kos, aku ya...

Ketika orang lain bangkit, aku terbelenggu?

Gambar
Palang rel kereta api menyetopku untuk berapa lamanya, meski aku tahu kereta telah lama berlalu. Aku tak kunjung melaju. Tetap terpaku di atas jok motor dengan muka tertunduk. Aku bingung, bagaimana bisa melaju? Sebab, pandanganku sungguh mengherankan. Setiap kudongakkan kepala, palang tersebut tetap melintang sepanjang aku hendak bergaerak maju, di sisi kanan maupun kiri. Sementara pengendara di samping maupun belakang, terus maju dan mampu menerobos plang yang tiba-tiba menjadi sekadar hologram. Mengapa aku tak kuasa macam mereka? Sudah berjam-jam aku stagnan diselimuti terik matahari. Anehnya, aku tak berkeringat sedikitpun. Dan entah berapa banyak pengendara yang telah mendahului. Mereka tak pula menjawab teriakan minta tolongku. Padahal aku tampak kesusahan di pinggir jalan. Seolah ada dinding pembatas yang tak kuasa kutembus. Namun, aku bukan laksana hologram bagi mereka. Aku nyata kok. Hei, jangan cuekin aku!!! Aku putus asa dan tiba-tiba menangis meraung-raung. Menyesal...

Renovasi Moral Menuju Investasi Bumi

Gambar
Manusia dengan akal pikirannya ternyata mampu mengguncang stabilitas kehidupan mereka sendiri. Melalui inovasi dan teknologi yang diciptakan, manusia menjelma ke dalam sosok yang tamak. Tentu denotasi negatif ini, hanya berlaku pada sebagian besar manusia. Hanya saja yang sebagian besar itu telah menutupi sisi positif manusia yang lain. Mengapa demikian? Pada mulanya, manusia menciptakan macam-macam inovasi dan teknologi untuk mempermudah pekerjaan. Namun, seiring meningkatnya rasa tidak puas manusia, inovasi-inovasi yang lahir berkembang pesat atas dasar ketamakkan. Manusia menginginkan sesuatu yang lebih banyak dalam waktu yang singkat. Oleh karena itu, manusia terus berlomba menemukan cara terbaik untuk kemajuan segala bidang kehidupannya. Alih-alih menemukan cara terbaik di satu bidang, manusia malah membuat dampak buruk di bidang yang lain. AC ( Air Conditioner ) misalnya, diciptakan bermula atas desakan hawa panas yang membuat manusia tidak nyaman berada dalam ruangan. Namun...

Menghagai Kelahiran? #1

Gambar
Aku bertekad, setelah apa yang kupelajari dari seorang teman, bahwa aku harus menghargai hari kelahiranku! Besar kecil penghargaan itu, tergantung dari situasi dan kondisi yang sedang kujalani saat ini. Menurutku penghargaan terbesar untuk merayakannya adalah dengan menghasilkan sesuatu dengan usaha maksimal untuk kemudian kuhadiahkan pada diri sendiri. Lantas, dalam pencarian hingga pagi ini, aku belum pula menemukan yang layak kujadikan persembahan. Susah sekali memilih cara-cara menghargai diri sendiri… Sembari menunggu ekstrak kulit kerang kering di wajah, aku mulai membuat daftar cara-cara menghargai diri. Dipikir-pikir aneh juga yah, memberikan kado berupa penghargaan untuk diri sendiri. Kebanyakan orang kan diberi kado dari orang lain di hari ulang kelahirannya. Aku jadi menemukan suatu praduga, jangan-jangan aku termasuk orang yang tidak banyak sahabatnya yang peduli pada hari lahirnya. Bagaimana mungkin peduli sih, aku juga tak peduli pada hari kelahiran mereka. Boro-bo...

Jadi Ingat Nasgor dan Ayah

Gambar
Pagi ini aku lihat Ita sibuk mengoseng-oseng nasi yang baru saja ia keluarkan dari rice cooker. Kulihat ia membuka bumbu nasi goreng instan. Masih dengan pakaian tidurnya ia berusaha fokus menyelesaikannya demi sang ayah. Sebelumnya ia telah selesai menunaikan pekerjaan merebus air dan mengisi air ke teko-teko sebagai persediaan minum kami. Kali ini tidak pernah aku lihat Ita demikian rajin dan telaten dalam hal piket kos kecuali pagi ini. Sesuatu yang istimewa mungkin tengah memenuhi ruang hatinya.  Melihat tingkahnya, aku senyum-senyum sendiri di celah pintu kamarku yang sedikit terbuka. Yah, kupikir karena demikian istimewanya kunjungan sang ayah kali ini. Sungguh 2 orang yang saling menyayangi, meski telah kehilangan ibu dan istri yang sama-sama mereka cintai. Ita pun hanya anak tunggal yang ditinggalkan almarhuma. dari google Begitulah aku kemudian teringat ayahku… Sebelum aku merantau ke Jogja, tentu aku senang sekali manakala ayah masak nasi goreng. Bagiku nas...

Buat KIPEM di Jogja?

Sebagai warga luar Yogyakarta yang punya keperluan membayar Pajak Kendaraan maupun SKCK di Yogja, tentu tidak asing lagi dengan KIPEM. KIPEM merupakan singkatan dari Kartu Identitas Penduduk Musiman. KIPEM dapat juga disebut KTP sementara bagi warga perantauan. Masa berlakunya hanya setahun. Selebihnya, buat baru lagi dan bukan perpanjangan, namanya. KIPEM inilah yang menjadi syarat dasar dalam membeli kendaraan baru di jogja, membayar pajak, membuat SKCK, dan membuat administrasi  kependudukan lainnya. Kali ini untuk kedua kalinya, aku harus mengurus pembuatan KIPEM.^^V Sesungguhnya ada 2 jalur yang dapat dipilih dalam membuat KIPEM, yakni 1) cara instan atau 2) cara murah. Jika pilihan pertama yang dipilih, maka cukup siapkan foto berwarna ukuran 2x3 sebanyak 3 lembar, fotocopy KTP asal  &  fotocopy Kartu pelajar atau mahasiswa (masing-masing 1 lembar), dan uang tunai sejumlah Rp. 50.000,00. Berikan semua syarat tersebut kepada kepala dukuh daerah tempat ...

Saya Anak Rohis dan Saya Bukan Teroris!

Gambar
Sekarang ini sedang hangat-hangatnya pemberitaan miring oleh Metro TV tehadap keberadaan ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah (Baca: Rohani Islam (Rohis)) yang dianggap sebagai tempat kaderisasi (sarang) terosis. Meskipun berita miring itu belum sepenuhnya benar dan hanya menilai sebagian dari sampel yang tidak mewakili. Sungguh tidak adil menarik kesimpulan dengan hanya mempertimbangkan secuil dari sebagian besar yang benar. Dari dulu pemberitaan semacam ini sudah sering terjadi, hanya saja kali ini pemberitaannya cukup besar  sehingga menarik perhatian penonton. sumber gambar:  http://menujubermartabat.wordpress.com TERORISME. Jika ditinjau maknanya, kata ini berarti  kegiatan yang melibatkan unsur kekerasan atau yang menimbulkan efek bahaya bagi kehidupan manusia yang melanggar hukum pidana, yang jelas dimaksudkan untuk: a. mengintimidasi penduduk sipil. b. memengaruhi kebijakan pemerintah. c. memengaruhi penyelenggaraan negara dengan cara penculikan a...

Gimana statusmu? Masih Ngampus?

Gambar
Ga nyangka aku udah melewati tahun ke-3 di kampus. Itu berarti gerbang keluar secara terhormat dari kampus (baca: Wisuda) akan segera menghampiri. Seneng, deg-degan, terharu, dan ekspresi melankolis lainnya menghinggapi ketika aku membayangkan kapan aku penelitian, kapan aku ujian, yudisium dan wisuda, kemudian... bayangan itu berlanjut entah kemana sampai pada satu frame yang bikin senyum-senyum sendiri. Halah, padahal KKN juga belum selesai.... Aku jadi inget dengan buku sakti yang sengaja kupesan jauh sebelum aku daftar SNMPTN. Buku itu berjudul Agar Ngampus Tak Sekadar Status.  Selama kuliah, status gue gimana yah? Begitulah kira-kira aku bergumam. Dan jawabannya adalah....eng ing eng, taaraaa, criiing It's so complicated. Halah CePe deh... Buku ini buat pandangan awalku terhadap dunia kampus berasa jadi banyak pilihan. Kamu bebas menentukan apa yang bakal kamu sandang sebagai seorang yang udah merdeka dari masa SMA! Catet MAHASISWA bukan SISWA! Dulu, mau tidak ma...