46 km X 2 = 200 kata

Prof. Slamet PH, MA., M.Ed., MLHR., Ph. D..

Demikianlah slide awal yang ditampilkan ketika perkuliahan umum di ruang pertemuan Pusat Bahasa UNY. Aku yang tengah mengerjakan PR TOEFL jadi bingung dan berusaha mencari tahu mengapa ada gema suara para peserta yang takjub. Sampailah mataku melihat slide tersebut. Hmmm, his name just Slamet PH, but....
***

Kuliah umum ini aku ikuti kemarin senin sore dengan penuh semangat dan harapan!


Sekilas ia seperti dekan FIP sebelum Pak Haryanto. Sisiran rambutnya yang nampak identik. Rambutnya yang hitam legam mengaburkan usia sesungguhnya. Ia bahkan telah punya KTP seumur hidup. Ya! bapak yang satu ini udah berusia 64 tahun, man! Cara berpakaiannya pun rapih yang mencerminkan ia seorang scholar, scientist alias intellectual yang menjunjung kedisiplinan. Benar, ia mengakui sendiri bahwa ia seorang dosen 'killer'. Namun, semua itu merupakan bentuk tanggung jawab sebagai dosen yang menyayangi mahasiswanya.

Ternyata ia seorang yang ahli di bidang Teknik Sipil. Wah, di awal, aku bertanya-tanya mengapa orang teknik mengisi kuliah dalam rangka peningkatan kemampuan berbahasa Inggris? Hal inilah yang spesial, ia didatangkan secara khusus untuk berbagi spirit dan memotivasi kami para mahasiswa untuk expert di bidang bahasa Inggris. Sang bapak langsung cap cis cus ngomong ke kita-kita dengan lancar plus logat bahasa Jawa. Namun, dia seorang yang enerjik dan konfiden. Jadilah, aku menunda mengerjakan PR TOEFL, seolah terhipnotis akan kharisma beliau dan ga mau ketinggalan satu kalimat pun!

Dalam kuliahnya, ia menyampaikan bagaimana caranya menjadi successful people dengan 61 kunci versinya! Aku memang ga hapal apa yang disampaikan dan ditulis di slide. Namun, yang paling berkesan dan akhirnya membuatku ingat sampai sekarang adalah 46 km X 2 = 200 kata!

Ia mengatakan sepandai-pandai kamu merangkai kalimat dalam bahasa Inggris, jika kamu tidak memiliki kosa kata yang banyak maka kamu ga akan banyak berbicara. Ia memang seorang yang fanatik terhadap penguasaan kosa kata. Hal ini bener banget setelah beberapa hasil penelitian yang kubaca tentang penguasaan bahasa adalah mengulang-ngulang dan menghafal kosa kata. Itulah yang menjadi modal awal untuk menuju tingkat selanjutnya. Selain itu, kakak kosku yang pintar bahasa Inggris pun meng-iya-kan. Aku jadi semangat deh meghafal kosa kata! Oh iya, ia juga mengatakan jika kamu ingin lancar cap cis cus, kamu harus merubah mindset Indonesia ke Inggris...

Tahu tidak bagaimana sang bapak menghafal kosa kata kala ia menyandang status mahasiswa IKIP di tahun 70-an? Ia menuliskan sebanyak 200 kosa kata bahasa Inggris di kertas sebelum berangkat kuliah, lho. Oh, ternyata sang bapak ngelaju dari Klaten (desanya aku lupa namanya apa) menuju kampus! Sepanjang perjalanan ia menghafalkan 200 kata dengan suka cita. Tahukah berapa jarak yang ditempuh? 46 km, man! Naik sepeda pula. Bener-bener daya juang manusia zaman 'Politikum' sangat besar yah...Subhanallah...
Pernah ada dukanya juga, ia menceritakan sempat nabrak kuda karena ga fokus berkendara. Duh, bapak...engkau masih menceritakannya dengan nada humor yang menggugah kami (sesungguhnya menampar kami para anak muda sekarang yang tak sebanding denga daya juangmu).

Sampai di kampus ia merasa kecapean dan hanya 1/3 yang ia ingat dari 200 kata itu. Namun, ia bertekad untuk benar-benar hafal 200 kata sesampainya di rumah. Jadi, perjalanan 46 km ke rumah ia habiskan sembari menghafal. Emang kekuatan niat, tekad, dan usaha sangat mujarab. Jadilah sehari itu sang bapak benar-benar menghafal 200 kata!!!!!! whatssssssssssss?

Aku tercenung mendengar penuturannya yang blak-blakan dan disertai bumbu-bumbu humor. Aku melakukan self talking yang mengakibatkan banyak bisiskan-bisikan pelemah tekad! Ughh, dasar kau setan!! Yah, aku mulai mencari-cari alibi kondisional, yah itulaah, yah inilah yang intinya membandingkan kondisi sekarang beda banget dengan kondisi dahulu. Yang membandingkan itu kan bapak, bukan saya! Untunglah ada secercah cahaya yang menghanguskan bisikan kotor itu! "Kamu hanya butuh meningkatkan daya juangmu sehingga bisa menyamai bahkan melebihi daya juang sang bapak!" bisikan ini tentu dari malaikat penyemangat!

Selain itu, sang bapak menyampaikan pengalamannya di tahun 70-an dalam membangun komunikasi dengan native speaker yang ada di seputaran Malioboro. Ada beberapa kisah lucu dan mengharukan yang ia ceritakan kepada kami. Pernah ia berkunjung ke restauran untuk orang asing di Malioboro. Ia hanya bermodalkan 5 perak untuk membeli es di restauran tersebut. Ia berlama-lama di restauran dan membiarkan esnya penuh hanya untuk ngomong sama orang asing! Ketika orang asing yang satu pergi, ia mendekati orang asing yang lainnya. Ia berusaha membangun komunikasi untuk ajang mengasah kemmapuan berbicaranya. Sampai pada orang asing lainnya yang merasa terganggu dengan ketidakjelasan lafal sang bapak dan megatakan get out! *(Kami yang ada di ruang perkuliahan tertawa lepas. How poor you are! But, yo're still cool )

Cerita lainnya: Ia pernah mengajak orang asing nginep selama 5 hari di rumahanya (Klaten). Sang Bule mau-mau aja deh diajakain nginep gratis sama bapak. Makan gratis juga, yah biar dikasih tempe gembus ga jadi soal, yang penting aku bisa tahu cara ngomongnya, cara tidurnya, semua prilaku si bule! Tutur sang bapak. Namun, usaha untuk membawa si bule harus dibayar dengan perjalanan 46 km bersepeda, boncengi si bule!

Aku memiliki firasat kalau bapak enerjik satu ini bakal menjadi deretan orang paling berpengaruh dalam hidupku. Seperti terhipnotis, sepulang dari kuliah itu, aku langsung ambil buku (yah semacam buku diary) dan menghitung secara matematis. Aku merumuskan formula yang harus aku buktikan! Bukan 46 km X 2 = 200 kata, tetapi 33 kata X 1 hari X 2 bulan = 2000 kata! Bismillah....

Oleh karena itu, aku akan bersahabat dengan Mr. Dictionary! So, plis jangan heran kalau aku nimang-nimang kamus yah! Plis jangan tanya! Itu bukan suatu aktivitas yang tabu, tahu!



@ Kampus ijo, wifi gratisan cuy!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Buku: Self Driving

Kisah di Balik Pintu (1)

Ringkasan The Old Man and The Sea