Mau Jadi Apa Aku?


Tanpa-Mu takkan indah jalan hidupku

Tanpa-Mu takkan mudah nikmat rizki-Mu

Karna-Mu slalu bersyukur saat ini…

Kuberanjak dewasa….

Lirik lagu Aku Beranjak Dewasa yang dilantunkan Sherina menyadarkan sesorang pada fase kehidupannya, yakni DEWASA. Aku pun demikian. Seorang kecil yang sangat mengidam-idamkan agar segera dewasa. Namun, kini terpana ketika fase itu telah di depan mata. Aku sekarang beranjang dewasa, kawan! Masih kuingat betapa inginnya aku kala itu menjadi sosok dewasa yang mengenakan gaun indah, berparas cantik bak bidadari. Ingin pula aku segera berlabel dewasa karena dianggap tahu segalanya. Tak lagi disebut: kau anak kecil yang tak tahu apa-apa! Ah dewasa… kapankah aku?

Aku pun berkhayal…

Senang yah rasanya ketika telah dewasa, cita-cita kita akan terwujud! Masih kuingat dengan impianku dahulu yang duduk di bangku kelas satu. Aku ingin menjadi seorang polisi wanita. Selalu kujawab demikian ketika bu guru menanyakannya. Bagiku sosok polisi wanita adalah sosok berwibawah, tegas, bijaksana dan berparas cantik. Ia ramah pada setiap anak yang bingung tersesat mencari jalan pulang. Ia rela berpanas-panas demi mengatur lalu lintas. Seragamnya pulalah yang membuatku tersihir. Hingga aku merengek pada Bunda untuk disewakan seragam cokelat itu lengkap dengan topinya. Wah, gagahnya aku! Kulihat bayanganku di cermin yang cemerlang. Meskipun, seragam itu agak kebesaran. Betapa aku tak sabar menjadi dewasa. Kupanjatkan doa pada Allah agar waktu cepat berputar.

Semoga hidup ini

Kulalui dengan hati yang

Seterang bintang-bintang

Indah bertaburan…

Tanpa kecewa, amarah, prasangka

Oh, dan semoga slalu kujalani perintah-Mu

Tuhan…

Bimbinglah diriku…

Penuh kasih yang Maha Pengasih,

Doaku….se..la..lu..

Ketika masa kecil telah beranjak menjadi masa remaja. Aku seakan lupa ingin menjadi apa yang kumau dahulu. Banyak penghalang yang tak memungkinkanku menjadi seorang polisi wanita. Lebih banyak, penghalang itu berasal dari dalam diriku sendiri. Aku merasa tak mampu jika harus setiap hari -dari pagi hingga sore- berada di jalan demi teraturnya lalu lintas! Aku tak mau masa hidupku hanya seputar; jalan, kendaraan, tanda lalu lintas, dan kecelakaan. Rasanya hidup di dunia terlalu sempit jika dijalani hanya dari sudut pandang polisi wanita. Dunia itu luas banget, kan?! Banyak warna-warni yang menghiasi…

Akhirnya, lupalah aku pada mulianya tugas seorang polisi wanita. Orientasiku ingin menjadi polwan berubah seiring pengaruh lingkungan (tentunya bukan disebabkan semenjak negara api menyerang). Lupa pada alasan sederhana menjadi polwan di masa kecil.

Aku kemudian iri pada sosok apoteker. Aku ingin menjadi ratu yang tahu segala obat-obatan. Agar aku tak mesti menghirup bau rumah sakit yang menyebalkan ketika dirawat di sana. Di masa remaja aku terkenal sebagai orang yang mudah sakit. Opname-lah, cek-darahlah, cabut gigi-lah, ah… memori yang kelabu. Dengan pengetahuanku yang luas tentang obat-obatan aku tinggal menelah obat yang sesuai tanpa harus dirawat di rumah sakit. Kala itu, aku tergelitik mendengar nama-nama obat yang diberikan dokter. Amoksilin, antibiotik, parasetamol, oralit, dan sederet nama lainnya. Aku sangat ingin bersahabat dengan mereka. Ingin sekali bercengkrama dengan oralit yang ampuh mengatasi diare. Karenanya-lah aku cepat pulih. Ah, ajaib sekali. Setelah kutanyai Bunda, itu pekerjaan para apoteker yang meracik ramuan ajaib itu. Aku rasa lebih baik ketika dewasa nanti aku menjadi apoteker dan bukanlah polwan! Ingin rasanya aku segera dewasa! Kapankah dewas itu?

Di masa remaja akhirku, aku dibenturkan pada suatu realita yang mematikan angan menjadi apoteker. Aku tak cukup percaya diri untuk mengenal dunia ramuan ajaib itu. Sebab, semua orang di sekolahku tahu bahwa kemampuan kimiaku di bawah rata-rata. Ah, meski aku berusaha menghapal susunan senyawa kimia beserta reaksi-reaksinya. Aku tak ubahnya pungguk yang jauh dari rembulan. Kecewa? Hanya sedikit. Hal yang paling membuat kecewa adalah aku menyerah tanpa percaya suatu keajaiban pasti ada! Ya, sudahlah…

Semenjak itulah, aku berganti pada cita-cita satu ke cita-cita yang lain. Semakin aku berpindah semakin keras aku berpikir bahwa aku tidak mampu. Aku tak lagi sepolos anak kecil yang sesuka hatinya menjadi sosok yang diimpikan. Tuntutan di sana-sini; orang tua, rekan, dunia kerja. Yang pasti, dunia yang dahulu kukenal tak lagi sederhana. Dunia yang kuimpikan indah dijalani saat masa dewasa terasa menyesatkan. Tak lagi bebas, tak lagi polos! Dan dunia dewasa saat ini melepaskan topeng sederhananya. Terlihatlah betapa kompleks wajahnya kini. Oh, aku kini beranjak dewasa….

Di malam yang sunyi

Dan sesenyap ini…

Dapatkah kumohon pada Yang Esa.

Masihkah tampak manis raut wajahku…

Masihkah seputih kapas di hatiku…

Bilakah tak kukoyak mata hatiku…

Oh… Mungkinkah?

Kini, aku benar-benar menjadi dewasa. Aku pun mulai berandai-andai. Ingin sekali kembali pada masa kecilku. Namun, insyaflah aku pada seuntai petuah Dr. 'Aidh al-Qarni: Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan di dalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi.

Meski hingga kini oang-orang di jurusanku berdesas-desus memperjuangkan nasib profesi lulusan, aku tetap bergeming. Berhenti sejenak memikirkan langkah yang tepat untuk kupijak selanjutnya. Memang, aku tidak lagi memperjuangkan hidupku untuk menjadi polisi wanita ataupun apoteker. Jelas, itu tidak mungkin. Aku harus memikirkan langkah tepat dan berharap akurat untuk menjadi teknolog pendidikan. Hei, aku belum cerita yah? Cita-citaku kini ialah menjadi menteri pendidikan. Wah…masih saja naif seperti dahulu! Tak mengapa, jawabku lantang. Aku telah banyak mengenal wajah dunia orang dewasa. Maka aku akan menjalaninya secara dewasa. Inilah yang kuanggap relevan dengan kehidupan yang kujalani saat ini.

Betapa jauh berbeda yah? Dari polwan hingga menteri pendidikan. Hmm, akankah aku mampu mewujudkannya?

Ohh… mungkinkah?

Kawan, aku, kamu, bahkan orang tuaku tak mampu menjanjikan. Pelajaran yang dapat kuambil selama ini ialah manusia tak ubahnya sosok yang berusaha melalui tangannya memberikan manfaat sebanyak-banyaknya. Itulah sebaik-baiknya manusia. Tanpa sadar! Itulah kecenderungan kita pada hukum Allah. Semoga apapun jadinya aku, itulah takdir yang digariskan. Seberapapu besarnya usaha kita.

Sepulang bincang-bincang seputar PPL jurusan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resume Buku: Self Driving

Kisah di Balik Pintu (1)

Ringkasan The Old Man and The Sea